MAGELANG, PORTALBLORA.com — Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Borobudur Bangkit (FMBB) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan bekas Pintu Utama Candi Borobudur, Jumat (12/12/2025).
Mereka menuntut pemerintah merevisi kebijakan pengelolaan Candi Borobudur yang dinilai mematikan ekonomi masyarakat lokal.
Aksi berlangsung sejak pukul 14.00 WIB hingga 16.00 WIB di ruas Jalan Pramudyawardani–Badrawati, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Lokasi tersebut merupakan pintu utama lama Candi Borobudur yang kini ditutup permanen.
Dalam orasinya, massa menolak kebijakan pembatasan pengunjung Candi Borobudur yang saat ini hanya 1.200 orang per hari. FMBB menilai aturan itu membuat kawasan wisata sepi dan berdampak langsung pada penurunan pendapatan warga.
“Kami menuntut pembatasan pengunjung dicabut. Borobudur jangan dibatasi hanya 1.200 orang. Kami mengusulkan minimal 10.000 pengunjung per hari,” ujar Puguh Gaishan, Ketua FMBB, dalam orasinya.
Selain menuntut pencabutan pembatasan kuota, FMBB juga mendesak dibukanya kembali Pintu 1 dan 2, pengembalian hak kios pedagang SKMB di Kampung Seni Borobudur, serta keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan wisata.
FMBB juga secara tegas menolak keberadaan Restoran Prana Borobudur yang dinilai hanya menguntungkan kelompok tertentu dan mematikan usaha pedagang kecil di sekitar candi.
“Borobudur ora di dol (Borobudur bukan untuk dijual). Pengelolaan candi harus berpihak pada rakyat, bukan pada kepentingan oligarki,” teriak Priyo PR, salah satu orator aksi.
Aksi demo berlangsung panas. Massa membentangkan karikatur kritik kebijakan sosial dan membacakan petisi tuntutan. Di depan selasar fasad ikon Candi Borobudur, massa juga membakar tumpukan ban mobil yang disiram bensin hingga memunculkan kobaran api dan asap hitam.
Usai menyampaikan tuntutan di pintu utama lama, massa kemudian bergerak menuju Pintu Kalpataru sebagai bentuk estafet simbol penolakan kebijakan.
Keluhan juga datang dari pedagang kecil. Kasinem (45), penjual kacang godok, mengaku penghasilannya anjlok sejak akses pintu utama ditutup.
“Sekarang sepi sekali. Dagangan jarang laku. Dulu ramai karena pengunjung lewat sini,” katanya.
Koordinator lapangan aksi, Agusta Kaladewa, menegaskan aksi ini merupakan bentuk kekecewaan warga yang merasa terpinggirkan dari ruang hidup dan ekonomi mereka sendiri.
Sementara itu, Kapolsek Borobudur AKP Marsodik SH mengimbau massa untuk tetap menjaga ketertiban dan menghormati pengguna jalan lain agar tidak menimbulkan kemacetan.
“Kami berharap penyampaian aspirasi dilakukan secara tertib dan tidak mengganggu lalu lintas,” ujarnya.
FMBB menegaskan aksi ini bukan yang terakhir jika tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti, termasuk tuntutan revisi Peraturan Presiden terkait pengelolaan Candi Borobudur agar lebih adil dan berpihak pada masyarakat lokal.

