SRAGEN, portalblora.com — Dalam upaya memperkuat peran keluarga dan masyarakat dalam proses pendidikan yang utuh, SD Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen meluncurkan Program Keluarga Bahagia.
Inovasi ini sudah diterapkan sejak Januari 2024 dan menjadi jawaban atas pentingnya membangun sinergi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan dalam membentuk generasi berkarakter kuat dan berlandaskan spiritualitas.
Berbeda dari pendekatan digital yang kini banyak diadopsi, Program Keluarga Bahagia mengusung konsep pendidikan non-digital yang fokus pada nilai spiritual, adab, dan komunikasi harmonis antara elemen pendidikan.
Kegiatan utamanya antara lain kelas TPQ terbuka, pelatihan adab dan etika kehidupan sehari-hari, serta forum komunikasi rutin antara pihak sekolah dan orang tua.
Program ini secara aktif melibatkan seluruh ekosistem pendidikan: siswa, orang tua, guru, dan masyarakat sekitar. SD Birrul Walidain percaya bahwa pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, melainkan juga perlu diperkuat oleh lingkungan keluarga dan sosial di sekitar anak.
“Melalui Program Keluarga Bahagia, kami ingin membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga memiliki karakter dan akhlak yang baik. Peran keluarga dan masyarakat sangat krusial dalam menanamkan nilai tersebut,” ujar Ustazah Annas Sayyidina, pengampu inovasi, Sabtu (26/07/2025).
Program ini pun mendapatkan dukungan penuh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen. Dalam kunjungannya, Kepala Dinas menyampaikan bahwa pendekatan ini selaras dengan semangat kebijakan Merdeka Belajar, yang menekankan peran aktif keluarga dalam mendidik anak.
“Keluarga Bahagia bukan sekadar nama program. Ini adalah bentuk nyata pendekatan pendidikan yang menyeluruh, sesuai dengan arah kebijakan nasional yang mendorong keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak,” ujar Kepala Dinas saat meninjau kegiatan TPQ di sekolah tersebut.
Dengan konsep pendidikan holistik berbasis nilai dan akhlak, SD Birrul Walidain Muhammadiyah Sragen telah menciptakan ruang belajar yang tidak terbatas pada ruang kelas.
Anak belajar dari rumah, dari teladan orang tua, dari interaksi dengan masyarakat, dan tentu dari pendampingan guru di sekolah.
Melalui Program Keluarga Bahagia, sekolah ini menegaskan bahwa mencetak generasi unggul dimulai dari keluarga yang hadir dan lingkungan yang mendidik.
Inovasi ini patut menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam membangun kolaborasi tiga pilar utama pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Joko Piroso/Sragen

